Gay politics adalah langkah-langkah politis yang dilakukan untuk
melegitimasi perilaku LGBT dan menekan siapa saja yang menentangnya
Kasus ditariknya buku Why? Puberty dari peredaran rupanya
berhasil menarik perhatian publik akan bahaya propaganda perilaku seks
menyimpang LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender).
Melalui buku-buku yang dikemas sedemikian rupa sehingga menarik bagi
anak-anak dan remaja, berbagai pembenaran terhadap perilaku LGBT telah
disebarluaskan.
Karena itu, Aliansi Cinta Keluarga (AILA) Indonesia, yang
berkonsentrasi pada tema pengokohan keluarga, menganggap hal ini sebagai
masalah yang sangat serius karena dapat merusak tatanan keluarga.
Demikian salah satu poin yang dikemukakan dalam acara silaturrahim
sederhana yang berlangsung di Rumah Damai Indonesia (RDI) hari Selasa,
19 Agustus 2014, antara AILA, IndonesiaTanpaJIL (ITJ) dan DPD RI DKI,
Fahira Idris.
“Permasalahan seksualitas ini adalah masalah yang sensitif dan
kompleks bagi siapa saja. Jika kita menekan kaum LGBT ini, mereka justru
akan bersikap defensif dan mencari pembenaran,” ungkap Rita Soebagio,
peneliti masalah-masalah psikologi dari AILA.
Sikap defensif itu tidak terlepas dari rekayasa media yang
mempersepsikan kaum LGBT sebagai minoritas yang terzalimi, terpojokkan
dan menjadi sasaran kekerasan.
Sementara itu, Dr. Dinar D. Kania, peneliti yang juga merupakan
penggiat AILA, mengingatkan bahwa ada masalah besar yang dikenal dengan
sebutan ‘gay politics’.
Secara sederhana, gay politics adalah langkah-langkah politis yang dilakukan untuk melegitimasi perilaku LGBT dan menekan siapa saja yang menentangnya.
Sejumlah lembaga internasional telah memasukkan klausul ‘dukungan
terhadap kesetaraan gender’ dalam bantuannya kepada masyarakat atau
ormas di Indonesia.
Hal ini bisa dianggap sebagai sebuah tekanan politik kepada masyarakat Indonesia untuk menerima propaganda LGBT.
Oleh karena itu, tidak heran bila cukup banyak buku yang ditemukan bermuatan propaganda semacam ini.
“Buku Why? Pubertas bukan yang pertama,” ungkap Dinar.
Salah satu argumen yang sering digunakan oleh para pendukung LGBT
adalah bahwa perilaku homoseksual adalah sifat bawaan yang bersifat
genetis. Pendapat ini kemudian disebarluaskan kemana-mana oleh media
massa sehingga banyak orang yang menerimanya sebagai sebuah kebenaran.
“Sebenarnya, banyak sekali yang membantah penelitian-penelitian yang
menyimpulkan bahwa homoseksualitas itu bersifat genetis.
Bantahan-bantahan itu pun sangat ilmiah dan diakui di dunia sains.
Hanya saja, sorotan media massa memang sangat timpang. Inilah hasil
kerja gay politics yang sejauh ini cukup berhasil mempertahankan citra
LGBT dengan berbagai cara,” ujar Dinar lagi.
Gay politics juga berhasil menekan dunia kedokteran dan psikologi sehingga berpihak kepada kaum LGBT.
“Sejak tahun 1970-an, homoseksualitas tidak lagi dianggap sebagai
masalah kejiwaan. Demikian juga sejarah HIV/AIDS telah direkayasa
sedemikian rupa sehingga orang lupa bahwa penyakit ini dulunya disebut
sebagai Gay-Related Immune Deficiency atau GRID. Artinya, sejak
awal memang penyakit ini bersumber dari kalangan homoseks. Tapi sejarah
ini ditutup-tutupi,” ungkap Rita Soebagio.
AILA Indonesia adalah aliansi yang terbentuk atas kerja sama lebih
dari tiga puluh lembaga yang peduli pada isu-isu pengokohan keluarga.
Belum lama ini, AILA telah menyelenggarakan Training for Trainers (TFT) untuk mempersiapkan stok trainer dalam melakukan penyuluhan-penyuluhan di seluruh wilayah Indonesia.*/ Akma
No comments:
Post a Comment