Dalam acara debat ke 3 tanggal 22 Juni 2014 malam, ada janji Jokowi untuk mendukung kemerdekaan Negara Palestina. Semua kita kaget mengapa Jokowi berani berkata seperti itu ? dimana
selama ini kita saksikan PDIP selama ini serta para petinggi PDIP dalam
sejarah perpolitikan luar negeri partai, belum pernah kita mendengar
adanya dukungan moril apalagi politik terhadap kemerdekaan Palestina.
Tiba-tiba Jokowi pada debat ke 3 kemarin malam berani mengatakan akan
mendukung kemerdekaan Palestina. Pernyataan ini membuat posisi Jokowi
hancur berantakan dalam debat tersebut, karena mayoritas rakyat sangat
mengetahui bahwa pernyataan ini tidak lazim, tidak lumrah, tidak
biasanya dan belum pernah di sebutkan dan dinyatakan oleh seorangpun
dari para petinggi PDIP. Mengapa pernyataan yang tidak lazim ini, berani
dinyatakan oleh Jokowi sebagai capres dari PDIP ? Hal ini
menunjukkan betapa galaunya, betapa ketakutannya pihak timses PDIP untuk
dukung Jokowi-Jk, sehingga segala carapun ditempuh (walau membohongi,
walau menipu) untuk mendapatkan simpati dari ummat Islam Indonesia.
Hal yang dilakukan oleh Jokowi ini, merupakan perbuatan upaya nyata
pembohongan kepada publik Indonesia didalam ajang debat capres pada 22
Juni 2014.
Semua rakyat Indonesia
mengetahui, bahwa PDIP (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan) partai
pendukung Jokowi-JK adalah merupakan partai fusi (pengabungan) dari beberapa partai sekuler PNI, IPKI, MURBA ditambah Partai Kristen Indonesia (Parkindo) dan Partai Katholik. PDIP
sudah lama dijadikan wadah perpolitikan bagi kalangan organisasi
Kristen Protestan, Kristen Katholik, Kristen Advent, Kristen Saksi
Yehova, Budha, Hindu, Kejawen dan Sosialis, Nasionalis, Aliran
Kepercayaan, agama Ahmadiyah (konspirasi Zionis), agama Syiah,
Neo-Zionisme serta para mantan pengikut paham Marxisme, Komparador asing
tergabung dalam Neo-Zionisme serta para Nasionalis keblinger antek
asing, sekarang para mantan Jendral pelanggar HAM yang sedang
memutarbalik HAM hanya kepada Prabowo Subianto padahal merekalah yang
asli pelanggar HAM. Munculnya keluarga Soekarno memegang
puncak manajemen organisasi PDIP selama ini, dan senantiasa terpilih
pada posisi tertinggi di partai adalah untuk memanfaatkan simpati emosi
massa PDIP dan emosi masa publik lainnya yang masih simpati dan cinta
dengan sosok figur Pemimpin Besar Soekarno. Makanya dalam berbagai
bentuk spanduk partai, gambar wajah Soekarno senantiasa ditampilkan
dominan. Selogan yang hebat yang selalu digembar-gemborkan oleh PDIP
adalah “Partai-nya wong cilik”, sekarang tidak berani lagi dipakai dan
disebutkan, karena PDIP selama diberi wewenang berkuasa, ternyata
berubah menjadi “Partai-nya wong LICIK” (secara data penelitian,
merupakan partai terbanyak kader yang korupsi dan manipulasi).
Disaksikan oleh seluruh rakyat Indonesia ternyata selogan dan teriakan
“Wong Cilik” hanya basa-basi politik dan tidak sesungguhnya mampu
mensejahterakan wong cilik. Akhirnya seluruh rakyat mempelesetkan kata CILIK menjadi LICIK.
Foto diambil pada berbagai tempelan di dinding publik
Baru saja kita saksikan para banser dan
pendukung timses Jokowi-Jk melakukan program pengawasan serta
pengintaian masjid-masjid di seluruh Pulau Jawa untuk mengawasi serta
memata-matai materi dakwah Jum’at apakah ada materi dakwah yang berisi
dukungan kepada calon No.1 Prabowo-Hatta. Selanjutnya adanya rencana
penghapusan kolom agama di KTP jika Jokowi-Jk menang dalam Pemilu 9 Juli
2014. Semua ini adalah dalam rangka memarginalkan ummat Islam Indonesia
serta adanya rencana terpadu mendiskreditkan ummat Islam kedepan jika
Jokowi-Jk memenangkan Pemilu. Kemudian PDIP lah yang sangat kuat menolak
RUU Jaminan Produk Halal, PDIP juga menolak RUU Perbankan Syariah, PDIP
juga menolak RUU Ekonomi Syariah, PDIP juga menolak RUU Anti
Pornografi, PDIP juga menolak RUU Pendidikan Nasional. Dalam perjalanan
sejarah PDIP selama ini, selalu para kadernya di DPR-RI senantiasa
bertentangan dengan berbagai aspirasi ummat Islam. Oleh karena itu
pernyataan Jokowi tentang mendukung kemerdekaan Palestina adalah
kebohongan yang nyata untuk seluruh rakyat Indonesia, karena mereka
merasa semakin membesarnya tingkat elektabilitas Prabowo-Hatta dan
mengalahkan persentase elektabilitas Jokowi-Jk. Akibatnya mereka kalut
dan galau makanya segala cara ditempuh dengan memerintahkan Jokowi agar
menyatakan dukungan Kemerdekaan Palestina (Kebohongan yang sangat
memalukan) pada acara debat capres 3. Hal ini dilakukan adalah untuk
mencuri simpati dari ummat Islam Indonesia dengan tujuan yang penting
bisa menang dengan cara paling kotor yaitu menyatakan yang tidak akan
dilakukan.
Banyak kebohongan yang telah
dilakukan oleh Jokowi, termasuk dalam kasus korupsi importasi bus
TransJakarta yang menyatakan Jokowi tidak mengenal Michael Bimo Putranto, Padahal, Bimo Putranto sendiri mengatakan bahwa Jokowi merupakan rekannya sewaktu di Jawa Tengah bahkan Jokowi dan Michael Bimo Putranto sama-sama menjabat sebagai Wakil Ketua dalam kepengurusan DPD PDIP Jawa Tengah periode 2005-2010. Selanjutnya Michael Bimo Putranto mengatakan
bahwa dirinya sebagai Ketua Timses Jokowi dan sebagai rekanan utama
berbagai proyek Pemda di Solo. Begitu juga pengakuan Puan Maharani dan
Tjahyo Kumolo juga seperti Jokowi menyatakan tidak mengenal sosok
bernama Michael Bimo Putranto. Ada apa dengan mereka semua para petinggi PDIP khususnya Jokowi sang calon presiden yang tidak mengakui Michael Bimo Putranto ??? (merdeka.com).
Mengertikah Jokowi dengan jargonnya “Revolusi Mental” ? Revolusi yang
bagaimana yang dimaksudkan, kalau budaya kemunafikan yang selalu
mengemuka.
Waspadalah seluruh rakyat pemilih,
kejadian yang anda saksikan dalam acara debat capres mengindikasikan
kepada kita semua siapa yang paling pantas dipilih untuk membangun
Indonesia agar bisa mandiri diatas kaki sendiri. (Abah Pitung)
No comments:
Post a Comment