Tuesday, 1 July 2014

Kebohongan Jokowi Dukung Palestina Merdeka!

Dalam acara debat ke 3 tanggal 22 Juni 2014 malam, ada janji Jokowi untuk mendukung kemerdekaan Negara Palestina. Semua kita kaget mengapa Jokowi berani berkata seperti itu ? dimana selama ini kita saksikan PDIP selama ini serta para petinggi PDIP dalam sejarah perpolitikan luar negeri partai, belum pernah kita mendengar adanya dukungan moril apalagi politik terhadap kemerdekaan Palestina. Tiba-tiba Jokowi pada debat ke 3 kemarin malam berani mengatakan akan mendukung kemerdekaan Palestina. Pernyataan ini membuat posisi Jokowi hancur berantakan dalam debat tersebut, karena mayoritas rakyat sangat mengetahui bahwa pernyataan ini tidak lazim, tidak lumrah, tidak biasanya dan belum pernah di sebutkan dan dinyatakan oleh seorangpun dari para petinggi PDIP. Mengapa pernyataan yang tidak lazim ini, berani dinyatakan oleh Jokowi sebagai capres dari PDIP ? Hal ini menunjukkan betapa galaunya, betapa ketakutannya pihak timses PDIP untuk dukung Jokowi-Jk, sehingga segala carapun ditempuh (walau membohongi, walau menipu) untuk mendapatkan simpati dari ummat Islam Indonesia. Hal yang dilakukan oleh Jokowi ini, merupakan perbuatan upaya nyata pembohongan kepada publik Indonesia didalam ajang debat capres pada 22 Juni 2014.
Semua rakyat Indonesia mengetahui, bahwa PDIP (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan) partai pendukung Jokowi-JK adalah merupakan partai fusi (pengabungan) dari beberapa partai sekuler PNI, IPKI, MURBA ditambah Partai Kristen Indonesia (Parkindo) dan Partai Katholik. PDIP sudah lama dijadikan wadah perpolitikan bagi kalangan organisasi Kristen Protestan, Kristen Katholik, Kristen Advent, Kristen Saksi Yehova, Budha, Hindu, Kejawen dan Sosialis, Nasionalis, Aliran Kepercayaan, agama Ahmadiyah (konspirasi Zionis), agama Syiah, Neo-Zionisme serta para mantan pengikut paham Marxisme, Komparador asing tergabung dalam Neo-Zionisme serta para Nasionalis keblinger antek asing, sekarang para mantan Jendral pelanggar HAM yang sedang memutarbalik HAM hanya kepada Prabowo Subianto padahal merekalah yang asli pelanggar HAM. Munculnya keluarga Soekarno memegang puncak manajemen organisasi PDIP selama ini, dan senantiasa terpilih pada posisi tertinggi di partai adalah untuk memanfaatkan simpati emosi massa PDIP dan emosi masa publik lainnya yang masih simpati dan cinta dengan sosok figur Pemimpin Besar Soekarno. Makanya dalam berbagai bentuk spanduk partai, gambar wajah Soekarno senantiasa ditampilkan dominan. Selogan yang hebat yang selalu digembar-gemborkan oleh PDIP adalah “Partai-nya wong cilik”, sekarang tidak berani lagi dipakai dan disebutkan, karena PDIP selama diberi wewenang berkuasa, ternyata berubah menjadi “Partai-nya wong LICIK” (secara data penelitian, merupakan partai terbanyak kader yang korupsi dan manipulasi). Disaksikan oleh seluruh rakyat Indonesia ternyata selogan dan teriakan “Wong Cilik” hanya basa-basi politik dan tidak sesungguhnya mampu mensejahterakan wong cilik. Akhirnya seluruh rakyat mempelesetkan kata CILIK menjadi LICIK.
1403512082350717615
Foto diambil pada berbagai tempelan di dinding publik
Baru saja kita saksikan para banser dan pendukung timses Jokowi-Jk melakukan program pengawasan serta pengintaian masjid-masjid di seluruh Pulau Jawa untuk mengawasi serta memata-matai materi dakwah Jum’at apakah ada materi dakwah yang berisi dukungan kepada calon No.1 Prabowo-Hatta. Selanjutnya adanya rencana penghapusan kolom agama di KTP jika Jokowi-Jk menang dalam Pemilu 9 Juli 2014. Semua ini adalah dalam rangka memarginalkan ummat Islam Indonesia serta adanya rencana terpadu mendiskreditkan ummat Islam kedepan jika Jokowi-Jk memenangkan Pemilu. Kemudian PDIP lah yang sangat kuat menolak RUU Jaminan Produk Halal, PDIP juga menolak RUU Perbankan Syariah, PDIP juga menolak RUU Ekonomi Syariah, PDIP juga menolak RUU Anti Pornografi, PDIP juga menolak RUU Pendidikan Nasional. Dalam perjalanan sejarah PDIP selama ini, selalu para kadernya di DPR-RI senantiasa bertentangan dengan berbagai aspirasi ummat Islam. Oleh karena itu pernyataan Jokowi tentang mendukung kemerdekaan Palestina adalah kebohongan yang nyata untuk seluruh rakyat Indonesia, karena mereka merasa semakin membesarnya tingkat elektabilitas Prabowo-Hatta dan mengalahkan persentase elektabilitas Jokowi-Jk. Akibatnya mereka kalut dan galau makanya segala cara ditempuh dengan memerintahkan Jokowi agar menyatakan dukungan Kemerdekaan Palestina (Kebohongan yang sangat memalukan) pada acara debat capres 3. Hal ini dilakukan adalah untuk mencuri simpati dari ummat Islam Indonesia dengan tujuan yang penting bisa menang dengan cara paling kotor yaitu menyatakan yang tidak akan dilakukan.
Banyak kebohongan yang telah dilakukan oleh Jokowi, termasuk dalam kasus korupsi importasi bus TransJakarta yang menyatakan Jokowi tidak mengenal Michael Bimo Putranto, Padahal, Bimo Putranto sendiri mengatakan bahwa Jokowi merupakan rekannya sewaktu di Jawa Tengah bahkan Jokowi dan Michael Bimo Putranto sama-sama menjabat sebagai Wakil Ketua dalam kepengurusan DPD PDIP Jawa Tengah periode 2005-2010. Selanjutnya  Michael Bimo Putranto mengatakan bahwa dirinya sebagai Ketua Timses Jokowi dan sebagai rekanan utama berbagai proyek Pemda di Solo. Begitu juga pengakuan Puan Maharani dan Tjahyo Kumolo juga seperti Jokowi menyatakan tidak mengenal sosok bernama Michael Bimo Putranto. Ada apa dengan mereka semua para petinggi PDIP khususnya Jokowi sang calon presiden yang tidak mengakui Michael Bimo Putranto ??? (merdeka.com). Mengertikah Jokowi dengan jargonnya “Revolusi Mental” ? Revolusi yang bagaimana yang dimaksudkan, kalau budaya kemunafikan yang selalu mengemuka.
Waspadalah seluruh rakyat pemilih, kejadian yang anda saksikan dalam acara debat capres mengindikasikan kepada kita semua siapa yang paling pantas dipilih untuk membangun Indonesia agar bisa mandiri diatas kaki sendiri. (Abah Pitung)

No comments:

Post a Comment